1 Penggunaan Teknologi Robotik di Terminal Teluk Lamong untuk Meningkatkan Efisiensi Operasional
PT Terminal Teluk Lamong (TTL) terus berinovasi dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi proses bongkar muat di pelabuhan. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan alat dengan sistem robotik, khususnya Automatic Stacking Crane (ASC), yang digunakan dalam operasi pengangkutan peti kemas. Penggunaan teknologi ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan keandalan dan transparansi dalam layanan pelabuhan.
Saat ini, TTL telah mengoperasikan sebanyak 20 unit ASC di Terminal Teluk Lamong. Dengan alat-alat ini, pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh satu orang per alat kini dapat dikerjakan oleh lima orang di ruang kontrol. Proses kerja tersebut sangat efisien karena sistem robotik mampu mendeteksi keberadaan peti kemas yang sudah dipesan oleh pengguna jasa. Hal ini memungkinkan alat bekerja secara otomatis tanpa intervensi manusia berlebihan.
2 Teknologi Pelabuhan
Proses bongkar muat dimulai ketika peti kemas akan diangkut dari container yard (CY) menuju truk pengangkut. Alat akan mengangkut peti kemas hingga berjarak sekitar 7 meter di atas truk, lalu menyerahkan sisa proses kepada operator. Begitu pula sebaliknya, ketika truk datang membawa barang, mereka akan memarkir kendaraannya sesuai blok yang ditentukan oleh tim planning. Peti kemas yang dibawa truk kemudian akan diambil oleh ASC melalui bantuan operator. Setelah berjarak sekitar 7 meter, stacking akan dilakukan secara otomatis oleh alat tersebut.
David Pandapotan Sirait, Direktur Utama TTL, menjelaskan bahwa sistem robotik ini menggunakan artificial intelligence (AI) untuk memahami koordinat posisi peti kemas. Dengan demikian, alat bisa langsung melakukan stacking tanpa perlu campur tangan operator. “Jadi bukan operator yang mengoperasikan, begitu diangkat dari truk, let the robot stack directly to the CY,” ujarnya.
Untuk mendukung penerapan sistem ini, TTL juga memperkenalkan sistem driver ID bagi para sopir truk pengangkut. Sopir yang ingin masuk ke area terminal wajib mengikuti pelatihan agar memahami aturan dan cara kerja ASC. Menurut David, setiap sopir yang masuk ke terminal harus siap menghadapi robot sebagai mitra kerja, bukan manusia. Jika sudah lulus pelatihan, mereka bisa masuk ke terminal lain.
3 Digitalisasi Pelabuhan
Selain itu, TTL juga menerapkan teknologi Optical Character Recognition (OCR) untuk identifikasi truk Petikemas yang masuk melalui gerbang otomatis serta mendeteksi kerusakan pada peti kemas. Teknologi AI dan robotic ini menjadi tulang punggung smart port. Data dari ASC dan OCR langsung terintegrasi dengan Terminal Operating System (TOS), sehingga memastikan proses bongkar muat yang efisien, transparan, dan minim kesalahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, TTL terus memperluas operasionalnya di Indonesia Timur. Hingga 2027, diperkirakan terdapat 16 terminal yang akan berada di bawah manajemen TTL. Semua terminal tersebut akan mengikuti best practice yang telah diterapkan di Teluk Lamong.
Pencapaian TTL di tahun 2025 juga sangat mengesankan. Throughput petikemas mencapai 1.165.150 TEUs, melebihi target RKAP Tahun 2025 sebesar 102,9% dan tumbuh 6,5% dibandingkan periode yang sama di Tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digitalisasi telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan kualitas layanan TTL.























