MCNNEWS.ID, JAKARTA — Liburan akhir tahun yang bersamaan dengan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dianggap memberikan kesempatan untuk penguatan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan perhotelan. Beberapa analis menilai bahwa pola konsumsi pada akhir tahun masih menawarkan ruang positif bagi sektor ini.
Kepala Riset Ekuitas Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menyatakan bahwa masyarakat secara umum masih mengalokasikan dana untuk liburan akhir tahun, sehingga penurunan daya beli tidak sepenuhnya menghambat potensi pemulihan kinerja perusahaan pariwisata.
“Meskipun daya beli sedang menurun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap mengalokasikan dana untuk berlibur, terutama jika liburan panjang di akhir tahun,” katanya kepadaBisnis, Senin (1/12/2025).
Liza menganggap segmen menengah ke atas akan menjadi pendorong utama permintaan, khususnya di destinasi besar seperti Bali dan Jakarta. Tingkat okupansi serta pendapatan hotel di wilayah tersebut diperkirakan naik seiring meningkatnya pergerakan wisatawan selama liburan panjang.
“Kendala hanya terjadi di pinggiran karena hotel akan bersaing dalam promosi. Namun secara operasional, momentumnya tetap positif,” katanya.
Kepala Penelitian KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengungkapkan bahwa perusahaan dengan pasar menengah ke atas serta korporasi berpeluang mendapatkan manfaat terbesar selama libur Nataru. Menurutnya, daya beli masyarakat kelas menengah bawah yang masih terbatas menyebabkan kontribusinya terhadap sektor pariwisata tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, Wafi menganggap kebijakan stimulus fiskal pemerintah mampu meningkatkan tingkat okupansi hotel, meskipun dampaknya dianggap masih bersifat sentimen. “Khususnya untuk destinasi besar seperti Bali, Jogja, atau Labuan Bajo. Namun dampaknya tidak langsung signifikan terhadap laba, lebih kepada peningkatan suasana hati yang positif,” katanya.
Pandangan berbeda diungkapkan oleh Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand. Menurutnya, dampak stimulus fiskal terhadap kinerja perusahaan pariwisata pada akhir tahun cenderung terbatas. Sebaliknya, tantangan justru muncul dari kebijakan efisiensi fiskal yang mengurangi anggaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebesar 40 persen pada 2025.
Kementerian Keuangan mengharapkan Kemenparekraf melakukan penghematan sebesar Rp603,8 miliar. Dengan pengurangan anggaran tersebut, sisa dana kementerian menjadi Rp884,9 miliar, berkurang dari sebelumnya yang mencapai Rp1,49 triliun.
“Penurunan anggaran ini dianggap tidak efektif karena mengurangi kemampuan pemerintah dalam menjalankan program strategis seperti promosi internasional dan pengembangan destinasi, yang berisiko menyebabkan kerugian ekonomi di sektor hotel dan restoran akibat berkurangnya pengeluaran MICE pemerintah,” ujar Abida.
Ia menambahkan, paket stimulus ekonomi pemerintah lebih fokus pada penguatan iklim investasi dan kepastian hukum secara menyeluruh, bukan secara khusus ditujukan pada sektor pariwisata. “Jika stimulus tersebut tidak diiringi dengan skema pendanaan non-APBN, seperti dana abadi pariwisata, untuk menggantikan anggaran yang dipangkas, dampaknya terhadap kinerja operasional perusahaan menjelang akhir tahun diperkirakan sedikit,” katanya.
Meskipun demikian, Abida setuju dengan pendapat Liza bahwa tren historis menunjukkan masyarakat Indonesia tetap mengalokasikan dana untuk perjalanan akhir tahun. Ia memberikan contoh tingginya jumlah pengunjung ke destinasi yang dikelola oleh PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) yang sering kali melebihi target selama masa liburan.
BRI Danareksa Sekuritas menyarankan saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga Rp1.600 per saham, serta saham PJAA, PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), dan PT Multi Indocitra Tbk (MICE) untuk dikumpulkan dalam jangka pendek. Di sisi lain, KISI Sekuritas merekomendasikan saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON), dan PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR), dengan mempertimbangkan likuiditas dan valuasi yang dianggap masih menarik.
Kenaikan Kunjungan Wisatawan Asing Mencapai Dua Digit
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah kunjungan wisatawan asing mencapai 1,33 juta pada bulan Oktober 2025, naik sebesar 11,19 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat secara bulanan, angka ini mengalami penurunan sebesar 4,83 persen dibandingkan bulan September 2025.
Kunjungan Turis Asing Melonjak
Sebanyak 1,17 juta wisatawan masuk melalui pintu utama seperti bandara dan pelabuhan internasional, sementara 152.775 kunjungan tercatat melalui pintu perbatasan darat dan laut.
“Jika dilihat dari pintu masuk utama, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara terbesar datang melalui Bandara Ngurah Rai, yang didominasi oleh wisatawan asal Australia,” ujar Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam rilis resmi pada Senin (1/12/2025).
_________
Disclaimer Berita ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembelian atau penjualan saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. MCNNEWS.ID tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang dibuat oleh pembaca.

















































