Bagi penggemar Majalah Intsiari dan pecinta jurnal perjalanan, nama HOK Tanzil mungkin sudah tidak asing lagi. Ia menggambarkan perjalanannya ke 240 negara melalui tulisan.
—
MCNNEWS.ID hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini
—
MCNNEWS.ID
Seorang dokter yang menemukan salah satu cara pengobatan tuberkulosis paru-paru ini juga dikenal karena catatan perjalanannya keliling dunia. Tujuh puluh tahun hidupnya dicatat dalam buku harian hingga saat ini.
3 Januari 1942: “Mata Hari, Broadway Serenade”
17 Agustus 1945: “Saya mendengar, pagi ini Indonesia merdeka”
Meskipun ada seseorang yang sangat disiplin dalam menulis jurnal harian di dunia ini, tampaknya orang tersebut tetap berada di posisi kedua. Posisi pertama hampir pasti ditempati oleh Haris Otto Kamil Tanzil atau HOK Tanzil. Mulai dari usia 20 tahun hingga akhir hayatnya, segala hal yang dialaminya selalu dicatat dalam buku harian.
HOK Tanzil menghembuskan napas terakhir pada bulan Oktober tahun 2017.
Bahkan, ketika MCNNEWS.ID memberikan kartu nama kepada HOK Tanzil, ia meminta kami untuk mencatat tanggal dan jam saat itu di kartu tersebut. Tujuannya agar dia dapat menuliskannya dalam buku harian secara rinci.
Seperti yang dilaporkan di atas, pada 2 Januari 1942 HOK Tanzil menonton dua film tersebut. HOK Tanzil muda memang seorang penggemar berat film bioskop. “Saya sudah memiliki tekad untuk menonton semua film yang dirilis. Dalam sehari saya bisa menonton empat film, di bioskop yang berbeda,” kata Tanzil. Oleh karena itu, di salah satu bukunya yang kertasnya sudah berwarna kecokelatan, Tanzil menulis: “1 Juli hingga 31 Desember 1941: menonton (film di bioskop –Red.) sebanyak 111 kali.”
Niat bunuh diri
MCNNEWS.ID bertemu dengan Tanzi ketika usianya sudah menginjak 90 tahun dan semangatnya masih terasa kuat. “Wah, kalau ditanya apakah masih ingin berjalan-jalan, saya ingin. Tapi saya sudah tidak bisa berjalan,” ujar Tanzil.
Hobi berjalan-jalan dan menulis jurnal ini juga yang membuat namanya terkenal, pada dekade 1980-an, setelahMajalah MCNNEWS.ID menyertakan tulisan-tulisannya saat melakukan perjalanan keliling dunia. Cetakan karya penanya juga telah diterbitkan dalam 16 seri buku.
Namun siapa sangka, Tanzil pernah berencana mengakhiri hidupnya. Pada masa 1953-1955, ketika berusia 30 tahun, dia menderita tuberkulosis. “Di masa itu, terkena TBC seperti dihukum mati, karena belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkannya,” kenangnya. Namun Tanzil membatalkan niatnya setelah tiba-tiba teringat pada anak-anaknya.
Alih-alih mengkritik, Tanzil justru meneliti penyakit tersebut. Ia memang seorang dokter spesialis mikrobiologi. Semangatnya yang tinggi mendorongnya untuk menemukan metode pewarnaan bakteri TBC yang diberi nama metode pewarnaan Tan Thiam Hok, diambil dari namanya sendiri.
Justru, metode yang ia temukan diakui dan digunakan dalam dunia kedokteran hingga saat ini. Ketika diberikan kesempatan untuk mengajukan paten atas temuannya, ia menolak karena tidak ingin repot. Temuan tersebut memungkinkan pendidikan Tanzil melanjutkan studi ke jenjang S-3 hingga meraih gelar doktor tanpa harus melalui gelar dokter.
Itulah Tanzil. Sederhana namun mampu, murah hati, serta penuh semangat, tak terduga, dan bebas. Kunadi Tanzil, putranya, menceritakan prinsip kuat ayahnya. “Ayah berjanji, jika ia sembuh dari penyakit TBC, dia akan menggunakan uang dari profesinya untuk kegiatan amal,” kata Kunadi.
Sama halnya dengan uang hasil dari tulisan perjalanannya. “Saya ingat pertama kali mendapat honor (dari MCNNEWS.ID), langsung saya berikan kepada PMI. Karena saya sudah berjanji, saya tidak akan mengambil uang dari tulisan saya,” kata Tanzil. Oleh karena itu, dia sedikit lupa besaran honor pertamanya. “Saya hanya ingat angka 15-nya. Tidak tahu apakah 15.000 atau jumlah lainnya, tapi saya langsung memberikannya ke PMI,” ujar Tanzil.
Susah makan
Aspirasinya adalah melihat dunia. Sejak kecil, ketika masih tinggal di kampung halamannya di Surabaya, ia sudah suka melakukan perjalanan. Bahkan ketika ia menjadi dosen besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1967, ia tetap menyimpan hasrat untuk menelusuri dunia dan mencari tantangan. Oleh karena itu, ketika usia Tanzil sudah cukup tua, dengan tegas akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan dunia pendidikan yang selama ini ia tekuni demi berkeliling dunia.
Ditemani istrinya, Ellia Chandra Tanzil, mereka memulai perjalanan pada tahun 1974. Selama perjalanannya, keduanya mengemudikan mobil VW Combi. Ellia yang merupakan seorang koki lebih sering menyiapkan makanan untuk keduanya daripada membeli makan di tempat tujuan. “Saya selalu mencoba makanan setiap negara. Tapi yang mencari masalah itu saya; jalan-jalan itu sulit, karena saya sulit makan,” ujar Tanzil.
Tanzil memang termasuk orang yang selektif dalam memilih makanan. Di Bangkok, dia tidak menemukan satu pun hidangan yang sesuai dengan selera rasanya. “Di sana, semua makanan itupedes! Tidak ada yang tidak pedes Akhirnya pergi ke restoran Tionghoa, ingin memesan nasi goreng, tapi ternyata juga pedas!” Karena Tanzil tidak suka makanan pedas.
Di mulutnya, makanan terlezat tetaplah masakan Indonesia. Salah satu yang paling disukainya adalah lumpia. Untuk minuman, Tanzil juga memilih dengan teliti. Dia tidak pernah mengonsumsi air putih. “Air putih itu racun bagi saya. Selama perjalanan, saya selalu membawa…”condensed milk(minuman susu dalam kaleng –Red.). Minuman harus manis,” kata penggemar minuman berkarbonasi ini.
Buang angin pun dicatat
Melintasi 240 negara, tentu banyak pengalaman yang terjadi. Begitu pula dengan Tanzil. Beberapa kisah masih teringat jelas olehnya, seperti saat dia terjebak di sebuah negara yang sedang mengalami konflik, yaitu di wilayah Balkan. Atau ketika dia sengaja melewati jalur yang terkenal dengan “bajing loncat” di daerah Sumatera Selatan. Pernah juga dia berani mencoba memasuki wilayah Uni Soviet, namun gagal karena pada masa itu Soviet merupakan negara yang tertutup.
Melakukan perjalanan keliling dunia, tidak ada istilah takut. Menurut Tanzil, setiap orang pada dasarnya baik. “Saya tidak pernah bertemu dengan orang jahat. Semua orang baik, karena sifat manusia tidak akan mencari musuh,” ujar Tanzil. Apakah istrinya juga tidak takut? “Tidak, kalau ada saya di sampingnya dia tidak takut,” kata Tanzil.
Semua kisah perjalanan dituliskannya dengan rinci sejak tahun 1943. Catatan-catatan yang sangat detail, bahkan misalnya ia mencatat bahwa pada pukul 11.13, ia buang angin! “Ya, jika masih bisa buang angin berarti tubuhnya masih sehat,” ujar Tanzil. Pada usia tua, buku harian tersebut memiliki fungsi lain bagi Kunadi yang merawatnya. Karena dari catatan itulah Kunadi memantau keadaan ayahnya.
Catatan lengkap Tanzil juga mencakup tingkat kurs mata uang pada masa itu. Selama perjalanan keliling dunia, dia selalu membawa cek pelawat (travelers cheque). Setiba di negara tujuan, ia langsung pergi ke bank untuk menukarkannya dengan mata uang setempat. “Kalau membeli sesuatu, saya keluarkan seluruh uang saya, lalu penjual diminta mengambil sendiri. Karena saya tidak tahu harganya, dia bisa memilih uang yang mana,” cerita Tanzil.
Jurus berlagak bodoh
Jika dijumlahkan, sudah 70 tahun ia menulis jurnal harian. Pada awalnya, Tanzil menulis dalam bahasa Belanda. Sekarang, campuran, terkadang menggunakan bahasa Belanda, terkadang bahasa Indonesia. Ia sendiri paling tidak menguasai tiga bahasa asing: Belanda, Inggris, dan Jerman.
Lucu, meskipun keturunan Tionghoa, dia justru tidak menguasai bahasa Cina. Sehingga saat tiba di Tiongkok, dia menempelkan kertas di dadanya dengan tulisan: “Bangsa Tionghoa, lahir di Indonesia, tidak bisa berbahasa Tionghoa.”
Banyak trik juga dijelaskan oleh Tanzil, salah satunya adalah teknik “berpura-pura bodoh”. “Di setiap negara, saya seolah-olah tidak memahami bahasanya. Cukup berpura-pura bodoh saja, agar orang lain membantu. Orang yang bodoh selalu dibantu. Jika terlihat pintar justru akan ditipu,” ujar Tanzil.
Dengan mengunjungi 240 negara, sebenarnya Tanzil layak memegang rekor dunia, karena rekor mengunjungi jumlah negara terbanyak yang tercatat dalam buku Guinness Book of World Records adalah 235 negara. Namun, sekali lagi, Tanzil enggan mendaftarkan dirinya, karena tidak ingin repot dengan urusan formal.
Kata-kata Tanzil dengan tegas, “Indonesia!” saat ditanya negara mana yang paling menyenangkan dari sekian negara tersebut.





















