MCNNEWS.ID
Upaya menjaga warisan Kerajaan Sunda di Kota Bogor mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan struktur pelindung atau cungkup baru di lokasi Prasasti Batu Tulis, Bogor Selatan, pada hari Selasa, 31 Desember 2025. Prasasti Batu Tulis adalah salah satu situs warisan budaya yang berasal dari Kerajaan Sunda dan mencatat jejak kemakmuran Pakuan Pajajaran.
Tindakan pembaruan ini dilakukan guna menjaga benda-benda bersejarah dari ancaman cuaca dan tindakan kerusakan, sekaligus mengatur ulang area tersebut agar menjadi tempat edukasi yang lebih mewakili.
Benteng Pelindung untuk Benda Bersejarah Abad Ke-16
Prasasti Batu Tulis adalah sumber sejarah yang langsung mencatat perjalanan Sri Baduga Maharaja dalam memerintah Pakuan Pajajaran. Sejauh ini, prasasti yang terukir di batu andesit dengan tinggi 1,82 meter ini mudah rusak karena ditempatkan di area terbuka.
“Pelindungan tempat ini tidak hanya terbatas pada perlindungan fisik, tetapi juga melibatkan pemulihan kembali cerita sejarah agar dapat dipahami bersama oleh masyarakat,” kata Fadli Zon dalam pidatonya di kawasan Batu Tulis.

“Warisan budaya ini merupakan identitas. Jika kita tidak merawatnya, kita akan kehilangan dasar sejarah,” katanya.
Selain pengaruh cuaca, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat mencatat adanya ancaman kerusakan akibat tindakan pengunjung yang tidak terkendali, seperti penggunaan lilin dan dupa yang menyentuh batu, hingga tindakan perusakan. Cungkup baru ini dirancang tanpa mengubah konteks asli lokasi, tetapi memberikan perlindungan optimal terhadap panas dan hujan.
Revitalisasi yang Lebih Luas
Pembangunan atap ini merupakan bagian dari kebijakan utama Kementerian Kebudayaan dalam melindungi cagar budaya nasional. Fadli Zon memberikan contoh keberhasilan pemindahan Prasasti Muara Cianten yang beratnya 20 ton yang sebelumnya terancam karena berada di tengah aliran sungai.
“Itu pertama kalinya dilakukan setelah beberapa dekade. Sekarang telah berhasil dijaga,” katanya.
Selanjutnya, Menteri Kebudayaan menyampaikan harapannya agar Jawa Barat secepatnya memiliki museum yang mampu menggambarkan kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara, seperti Pajajaran. Menurutnya, pemahaman terhadap masa lalu menjadi dasar dalam merancang masa depan budaya Indonesia.
Sinergi Lintas Sektor
Kepala Badan Perlindungan Budaya dan Adat, Restu Gunawan, mengapresiasi kolaborasi antara Pemerintah Kota Bogor dan BPK Wilayah IX. Menurutnya, revitalisasi yang dilakukan sepanjang tahun 2024-2025 telah memberikan hasil nyata, kondisi fisik prasasti kini lebih bersih dan kerusakan akibat bahan asing berhasil ditangani secara efektif.
“Situs ini memiliki hubungan erat dengan masyarakat, mulai dari wisata budaya, ziarah, hingga penelitian. Keberadaan cungkup ini meningkatkan tingkat perlindungan tanpa menghalangi masyarakat dalam mengakses sejarahnya,” ujar Restu.
Upacara peresmian diakhiri dengan penandatanganan prasasti dan kunjungan ke makam Mbah Dalem Batu Tulis. Pada akhir acara, Fadli Zon berharap kawasan Batu Tulis dapat berkembang menjadi destinasi wisata budaya yang berkelanjutan. Selain menjaga nilai sejarah, kawasan ini diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar melalui pengembangan sektor ekonomi kreatif, kuliner, UMKM, serta pariwisata setempat.
“Pelestarian budaya perlu memberikan dampak nyata, tidak hanya untuk sejarah, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Mengenal Prasasti Batu Tulis
Prasasti ini terdiri dari sembilan baris tulisan dengan huruf Jawa Kuna dan bahasa Sunda Kuna. Isinya menggambarkan peran Sri Baduga Maharaja, termasuk membangun parit pertahanan di Pakuan, menciptakan gugunungan (tanda pengingat), memperkuat jalan dengan batu, membentuk hutan lindung (Samida), serta membangun telaga Rena Maha Wijaya.
Prasasti ini diakhiri dengan sengkala (angka tahun) yang berbunyi “Panca Panda Wa Emban Bumi”, mengacu pada tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi.***





















