Prosesi pemakaman Pakubuwono XIII berlangsung khidmat dan penuh makna, menampilkan kekayaan adat Keraton Surakarta yang sarat simbolisme budaya Jawa. Kirab jenazah dengan kereta kuda, penyebaran udik-udik sebagai sedekah terakhir, hingga pemakaman di kompleks raja-raja Imogiri menjadi bukti penghormatan mendalam bagi sang raja sekaligus pelestarian tradisi leluhur Mataram.

Prosesi Pemakaman Pakubuwono XIII Penuh Keharuan dan Nilai Adat
Solo, mcnnews.id – Prosesi pemakaman Pakubuwono XIII, Susuhunan Keraton Surakarta Hadiningrat, berlangsung penuh khidmat dan sarat makna pada Rabu (5/11/2025). Upacara adat ini menjadi momen penting yang menunjukkan keluhuran budaya Jawa dan penghormatan terakhir untuk seorang raja yang dikenal bijaksana dan teguh menjaga tradisi.
Pakubuwono XIII wafat pada Minggu (2/11/2025) sekitar pukul 07.29 WIB di Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Sukoharjo. Jenazah kemudian dibawa ke Keraton Surakarta untuk dilakukan serangkaian ritual adat sebelum dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ritual Adat di Dalam Keraton
Setibanya di keraton, abdi dalem dan keluarga besar kerajaan melakukan upacara doa dan penghormatan terakhir. Prosesi dimulai dengan pembacaan doa tahlil, disusul ritual siraman jenazah menggunakan air kembang setaman, sebagai lambang penyucian raga sebelum kembali ke Sang Pencipta.
Setelah itu, jenazah disemayamkan di Kedhaton Agung Keraton Surakarta, tempat yang biasa digunakan untuk penghormatan terakhir para raja. Ribuan warga dan tokoh masyarakat tampak datang untuk memberikan penghormatan, mencerminkan betapa besar rasa hormat masyarakat terhadap sosok almarhum.
Kirab Jenazah dan Tradisi Udik-Udik
Pada pagi hari sebelum keberangkatan ke Imogiri, keraton menggelar kirab jenazah yang sakral. Para petugas membawa jenazah menggunakan kereta jenazah tradisional yang ditarik enam ekor kuda, sambil diiringi pasukan prajurit keraton, abdi dalem, dan keluarga besar Kasunanan.
Para petugas menyertai kirab dengan menaburkan udik-udik, berupa beras dan uang logam, di sepanjang perjalanan sebagai sedekah terakhir raja kepada rakyatnya. Tradisi ini memiliki makna mendalam: raja tetap memberi hingga akhir hayatnya, menandakan keikhlasan dan tanggung jawab sosial seorang pemimpin.
Warga tampak antusias menyambut iring-iringan ini. Banyak di antara mereka menundukkan kepala sebagai tanda hormat saat kereta jenazah melintas.
Pemakaman di Imogiri, Peristirahatan Para Raja Mataram
Rombongan jenazah kemudian bertolak menuju Imogiri, kompleks pemakaman raja-raja Mataram yang terletak di ketinggian perbukitan Bantul. Pihak Keraton Surakarta menyerahkan jenazah kepada juru kunci Imogiri sebagai langkah simbolik yang melanjutkan prosesi dan menjadi bentuk penghormatan terhadap adat turun-temurun.
Para petugas membawa jenazah menaiki anak tangga menuju makam utama, tempat keluarga, abdi dalem, dan tokoh adat memberi penghormatan terakhir.
Suasana haru menyelimuti pemakaman saat para petugas memasukkan jenazah Pakubuwono XIII ke liang lahat di sisi makam pendahulunya.
Makna dan Filosofi Prosesi Pemakaman
Prosesi pemakaman ini bukan sekadar ritual penghantaran jenazah, melainkan simbol keluhuran budi seorang pemimpin yang hingga akhir hayatnya menjaga martabat budaya. Tradisi seperti kirab, udik-udik, dan siraman jenazah mencerminkan nilai-nilai Jawa yang menjunjung kesucian, keseimbangan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Para tokoh budaya menilai prosesi adat ini mengingatkan generasi muda menjaga warisan budaya leluhur di tengah modernisasi.
Penutup
Kepergian Pakubuwono XIII meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Solo dan keluarga besar Keraton Surakarta. Namun, prosesi pemakamannya menjadi bukti nyata bahwa adat dan budaya Jawa masih tetap lestari.
Pakubuwono XIII mewariskan nilai luhur Keraton Surakarta yang menginspirasi masyarakat menjaga pedoman moral dan warisan budaya bangsa.























