Kab Tasikmalaya, MCNNEWS.ID – Pembangunan proyek Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi Primer dan Sekunder DI Cideres, Desa Gombong, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, yang didanai oleh APBD Perubahan 2025 senilai Rp149.793.000, menuai sorotan tajam.
CV. Hayza Naratama diduga kuat mengerjakan proyek ini dengan spesifikasi teknis dan kualitas pekerjaan yang janggal di lapangan.
Proyek yang dijadwalkan selesai dalam 45 hari sejak 11 November 2025 ini mulai menarik perhatian setelah warga menemukan beberapa indikasi ketidaksesuaian saat proses pengecoran saluran air.

Indikasi Kejanggalan Teknis
Berdasarkan pengamatan langsung di lokasi, ditemukan beberapa hal yang mengkhawatirkan:
Pelaksanaan Pengecoran di Lokasi Berair:
adanya genangan air berlumpur di dasar galian pondasi, Pengecoran beton yang dilakukan di atas permukaan yang tergenang air atau berlumpur dapat mengurangi kekuatan dan kepadatan beton secara signifikan, serta berpotensi mengakibatkan segregasi material. Hal ini membuat saluran irigasi cepat retak atau jebol.
Dugaan Ketidaksesuaian Dimensi Saluran:
Dalam percakapan dengan salah satu pekerja menyebutkan dimensi saluran yang sedang dibangun:
Lebar: 40 cm
Tebal Dinding: 12 cm
Tebal bawah (lantai) hanya 6 cm, sehingga dinilai terlalu tipis untuk konstruksi saluran irigasi yang harus menahan beban dan tekanan air jangka panjang. Lantai yang lemah ini berisiko ambrol, terutama jika tanah dasar tidak dipadatkan dengan baik.

Kualitas Campuran Material (Mutu Beton):
Meskipun belum diuji di laboratorium, kondisi lokasi yang becek dan kotor menimbulkan keraguan warga terhadap mutu beton yang dihasilkan. Penggunaan material (semen, pasir, kerikil) dan rasio campurannya harus benar-benar presisi untuk mencapai kekuatan beton sesuai standar Rencana Anggaran Biaya (RAB) atau spesifikasi teknis.
Desakan Warga dan Petani

Mengingat proyek vital ini bernilai hampir Rp150 juta, warga Desa Gombong mendesak DPUTRLH Kabupaten Tasikmalaya segera turun tangan.
“Kami khawatir, jika pengerjaan tidak sesuai standar, saluran irigasi ini tidak akan bertahan lama. Kami butuh jaminan pasokan air, bukan proyek yang asal jadi,” ujar seorang perwakilan petani setempat yang enggan disebutkan namanya. Selasa (2/12/2025)
Warga menuntut adanya audit teknis menyeluruh oleh pihak independen untuk memverifikasi kualitas dan dimensi bangunan, serta meminta DPUTRLH untuk memperketat pengawasan di lapangan agar rekanan pelaksana, CV. Hayza Naratama, bekerja sesuai kontrak dan spesifikasi.
Pihak pelaksana proyek, CV. Hayza Naratama, maupun dinas terkait belum memberikan keterangan resmi saat berita ini diturunkan.
Kontributor Liputan:Randi Irfandi
Penulis:Robi D
Editor :Shanny R























