CIAMIS, MCNNEWS.ID
Sentra Pangan Berbasis Gizi (SPBG) terbaru di Kabupaten Ciamis resmi mulai beroperasi dengan mengedepankan standar mutu dan kebersihan yang ketat. Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah strategis dalam mendukung penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat sekaligus memperkuat sistem pengelolaan pangan yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Operasional SPBG terbaru tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pusat distribusi pangan berbasis gizi, tetapi juga mampu menjadi model pengelolaan yang dapat diterapkan di berbagai wilayah lain. Dengan sistem yang dirancang lebih modern dan terukur, SPBG di Kabupaten Ciamis menempatkan kualitas pelayanan sebagai prioritas utama.
Kepala SPPG Ciamis 06, Yamo, menegaskan bahwa fasilitas yang kini mulai berjalan merupakan bagian dari pengembangan baru yang dirancang untuk memberikan pelayanan pangan yang lebih optimal. Menurutnya, aspek kebersihan dan kualitas produk menjadi perhatian utama dalam seluruh proses operasional.
Baca juga : pmii ciamis mendorong mui untuk mengeluarkan fatwa
Ia menjelaskan bahwa setiap tahapan, mulai dari pengolahan bahan pangan hingga distribusi kepada penerima manfaat, dilakukan dengan prosedur yang mengacu pada standar kebersihan yang ketat. Hal ini dilakukan agar kualitas pangan tetap terjaga dan aman dikonsumsi oleh masyarakat.
“SPBG ini termasuk yang terbaru dan kami berkomitmen menjaga kualitas serta kebersihan. Kami ingin fasilitas ini menjadi salah satu contoh terbaik dalam pengelolaan pangan berbasis gizi,” ujar Yamo, Sabtu (25/04/2026).
Selain menekankan kualitas layanan, pihak pengelola juga membuka ruang evaluasi dari masyarakat maupun pihak terkait. Langkah ini dilakukan agar pengelolaan SPBG dapat terus berkembang melalui kritik dan masukan yang membangun.
Baca juga : baznas ciamis menjalin kerjasama
Menurut Yamo, keterbukaan terhadap evaluasi merupakan bagian penting dalam menciptakan sistem pengelolaan yang transparan dan bertanggung jawab. Dengan demikian, keberadaan SPBG tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas distribusi pangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan publik.
Pada tahap awal operasional, SPBG di Kabupaten Ciamis masih berjalan secara bertahap. Dari total sekitar 14 titik yang direncanakan, baru enam titik yang mulai aktif pada minggu pertama pelaksanaan.
Pengoperasian secara bertahap dilakukan karena masih berlangsung proses pendataan penerima manfaat. Pendataan tersebut bertujuan memastikan program berjalan tepat sasaran dan bantuan pangan dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Dari sekitar 14 titik yang direncanakan, saat ini baru enam yang aktif. Kami masih melakukan proses pendataan penerima manfaat agar pelaksanaan program lebih efektif dan tepat sasaran,” jelasnya.
Langkah pendataan tersebut dianggap penting untuk menghindari ketidaksesuaian distribusi dan memastikan program berjalan secara merata. Selain itu, proses verifikasi juga dilakukan agar data penerima manfaat dapat dipastikan valid dan akurat.
Baca juga : dapur mbg di cisaga menjadi sorotan warga
Keberadaan SPBG menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan lokal, khususnya dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi masyarakat. Dengan sistem distribusi yang lebih terorganisir, pemerintah daerah berharap kualitas asupan pangan masyarakat dapat meningkat secara bertahap.
Tidak hanya fokus pada distribusi, SPBG juga menekankan pentingnya keberlanjutan operasional. Oleh karena itu, pengelolaan dilakukan dengan perencanaan jangka panjang agar fasilitas tetap berjalan optimal dan memberikan dampak positif dalam jangka waktu yang panjang.
Yamo berharap SPBG Ciamis 06 dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan pangan berbasis gizi yang berkualitas di tingkat daerah. Menurutnya, konsistensi terhadap visi awal sangat penting agar pelayanan tetap berjalan sesuai tujuan.
“Harapannya SPBG ini bisa menjadi yang terbaik, menjaga kualitas sesuai visi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Di sisi lain, isu terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga sempat menjadi perhatian publik seiring beroperasinya fasilitas tersebut. Menanggapi hal itu, pihak pengelola memastikan sistem pengolahan limbah yang digunakan telah memenuhi standar yang berlaku.
Yamo menyampaikan bahwa sistem IPAL telah melalui pemeriksaan oleh pihak terkait, termasuk unsur kesehatan dan tim pengawasan yang berwenang. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa instalasi yang digunakan dinilai sesuai ketentuan.
“Untuk IPAL sudah sesuai standar. Sistemnya telah dicek oleh pihak kesehatan dan Forkum Info, serta dinyatakan memenuhi ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Pengelolaan limbah menjadi salah satu aspek penting dalam operasional fasilitas pangan. Hal ini dilakukan agar kegiatan produksi dan distribusi tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
Baca juga : harga lpg non subsidi resmi naik per 18 april 2026
Meski telah memenuhi standar, pihak SPBG tetap berkomitmen melakukan evaluasi berkala. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas operasional tetap terjaga dan dapat beradaptasi terhadap kebutuhan di lapangan.
Evaluasi berkelanjutan dinilai penting karena pengelolaan pangan berbasis gizi memerlukan pengawasan yang konsisten. Dengan sistem pemantauan yang baik, kualitas layanan dapat terus ditingkatkan sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat.
Kehadiran SPBG baru di Kabupaten Ciamis menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat layanan pangan yang sehat, aman, dan berkualitas. Selain mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, fasilitas ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dengan standar kebersihan yang ketat, pengelolaan profesional, serta sistem distribusi yang bertahap, SPBG Ciamis 06 diproyeksikan menjadi model pengelolaan pangan berbasis gizi yang berkelanjutan di Kabupaten Ciamis.
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Channel Whatsapp
Follow Instagram MCNNEWS.ID
Ikuti update berita MCNNEWS.ID di Facebook




















